Laman

Tolong Jangan Ada Kalimat Ini Lagi


“Salahmu sendiri. Orang itu beragam, tidak selalu seperti yang ada di pikiranmu. Ini hidupmu yang sekarang. Kamu berada di dunia kerja dan orang-orang yang berada di sekitarmu bukan lagi orang-orang seperti yang ada di masa kuliah atau sekolahmu dulu. Kamu harus sadar kalau orang jahat itu ada”.

 “Kamu harus sadar kalau orang jahat itu ada”.

Sial. Kata-kata pada kalimat terakhir yang kau ucapkan seperti denging yang mengisi pendengaranku dengan kata. Terdiam sambil menyeruput kopi dingin di pinggir lapangan alun-alun yang selalu ramai ini, kau kembali mengingatkanku untuk selalu berhati-hati. Aku masih diam. Rasanya terlalu kesal untuk memulai pembicaraan baru.

“Tukang tela-tela baru ada jam 7 nanti. Tunggu dulu ya, ga buru-buru kan?” Tanyamu padaku setelah sebelumnya kau mendapat jawaban atas pertanyaanmu kepada ibu penjual kopi. Yang sebenarnya juga kudengar.

Aku mengangguk. Sambil sesekali membuat gerakan memutar pelan pada sedotan di dalam segelas kopi dingin yang ada di hadapanku. Kau memainkan ikat rambutku yang sedari tadi kugenggam. Entah kenapa aku jarang sekali mengikat rambutku meski aku selalu membawa ikat rambut kemanapun pergi.

“Lain kali lebih hati-hati ya” Kau melemparkan senyum padaku ketika kualihkan perhatianku dari gelas kopi ke arahmu. Bukan, arah alismu kurasa.

Aku diam. Kata-katamu masih terdengar dalam telingaku, “Kamu harus sadar, orang jahat itu ada”.

Mencintai Fantasi


Rasa kecewa terkadang muncul ketika seseorang yang kau cintai tidak melakukan sesuatu seperti yang kau inginkan. Bermula ketika kau menciptakan ‘lelaki sempurna’ dalam pikiranmu untuk kau cintai di luar pikiranmu. Hingga kau menginjeksi sifat-sifat dari 'lelaki sempurna' buah fantasimu itu pada seseorang. Dan kemudian kau mengatakan mencintainya. 
Bukankah kau sedang mencintai fantasimu sendiri?

Frekuensi


Secara ilmu fisika yang kukenal dari bangku sekolah, frekuensi adalah banyaknya getaran per satu detik. Dari sisi linguistik, frekuensi berarti jumlah getaran gelombang suara per detik. Sedangkan dalam ilmu komunikasi, menurut KBBI yang sengaja kucari definisinya, frekuensi berarti jumlah getaran gelombang elektrik per detik pada gelombang elektromagnetik. Sedangkan menurut pendapat seorang kawan lama menyebutkan bahwa frekuensi adalah sesuatu yang tak terdefinisi, tak bisa dijabarkan dengan kata. Sesuatu yang dia sederhanakan dengan sebuah kata “frekuensi”. Aku menangkapnya sebagai kesesuaian antara 2 orang atau lebih. Dia menyebutkan bahwa orang-orang dengan satu frekuensi yang sama dapat berbincang-bincang lebih lepas atau lebih banyak bahasan yang dapat dibicarakan. Tidak seperti obrolan yang sekedar “lagi apa? Sudah makan belum? Makan sama apa?”

Hanya kebetulan aku dan kawan lama sama-sama sebagai orang yang senang ngobrol. Senang membicarakan sesuatu. Kami membicarakan segala sesuatu secara mendetail, perbincangan yang sampai ke ‘dasar’ untuk berbagai macam perbincangan. Aku menikmatinya. Kadang aku memikirkan bahwa waktu adalah sesuatu yang sama sekali dapat diabaikan jika suatu hari nanti aku menemukan seseorang yang benar-benar satu frekuensi –meminjam perkataan kawan lama– denganku.
Aku menyimpulkan bahwa keuntungan dari dua orang satu frekuensi yang sedang berjumpa adalah kemampuan saling melontarkan kalimat, saling menautkan. Tanpa merasa terpaksa. Dan tanpa merasa bahwa saat ini harus ngobrol. Mengalir. Karena sebagian orang kurasa terbiasa mencari-cari bahan obrolan yang kiranya harus didapatkan secepatnya sebelum lawan bicara merasa bosan.

Mendadak aku teringat padamu.

Kau, sejauh ini adalah yang paling kuharapkan untuk menempati posisi itu. Posisi sebagai orang yang paling se-frekuensi denganku. Sebagai seseorang yang akan meniadakan keberadaan sang waktu ketika kita sedang berbincang. Kau pernah melakukannya. Bahkan dengan caramu.

Aku teringat ketika kau meneleponku pada malam itu. Kau berkata bahwa kau sedang tidak ingin merasa sendirian. Saat yang sama ketika aku sedang membaca seperempat terakhir bagian novel yang sudah kubuka beberapa hari lalu. Kukatakan aku sedang tidak ingin berbincang. Kau mempersilahkanku untuk tetap membaca novelku ketika kau menelepon. Aku tidak bicara, kau juga diam. Hanya sesekali terdengar suara hembusan nafasmu di ujung sana. Atau suara saat kau sedang memperbaiki posisi berbaringmu. Suara-suara yang kusadari ketika aku melepaskan pandanganku sejenak dari barisan tulisan dalam novelku untuk sekedar memastikan bahwa kau masih disana.

Tiada kata, tapi aku suka. Kau mematahkan kesimpulanku sebelumnya, karena dalam diam pun aku tetap merasa satu frekuensi denganmu. 

Sesuatu Tentang Senyuman


Hari Minggu pagi itu aku terkejut dengan sosokmu yang datang tiba-tiba ke rumahku dengan jaket parasit dan celana basket yang keduanya berwarna hitam, warna kegemaranmu. Aku yang baru saja bangun di hari yang semestinya bebas untuk bangun siang itu sama sekali tidak menyangka bahwa kau akan datang sepagi ini.

“Pagi bener?” Tanyaku. Semalam kau memang mengatakan ingin datang, tapi aku tidak sekalipun menyangka akan sepagi ini.
“Mumpung hari Minggu. Kita olahraga dulu”. Jawabmu
“Olahraga?” Aku merasa mulutku menganga lebar meninggalkan pengucapan huruf ‘a’ dalam kata olahraga, karena seingatku kau tidak pernah suka olahraga.
“Iya”.
“Males” Jawabku sambil menjatuhkan diri ke kursi ruang tamu.
“Iyasih aku juga males. Yaudah kopi ajadeh” Katamu sambil mempertontonkan gigimu yang kekuningan. Gigi perokok.

Setelah kuhidangkan secangkir kopi instan panas dan sepiring kue bolu gulung selai blueberry, kau bercerita bahwa kau sedang tidak menyukai suasana di rumahmu. Kau mengulang ceritamu beberapa waktu lalu perihal tingkah laku ayahmu yang tidak kau sukai itu. Sesekali kulihat raut mukamu ketika kau menyeruput kopi panasmu.  Kedua alis mata tebalmu itu terangkat hingga memicu terbentuknya beberapa guratan di dahimu. Aku tersenyum.

“Kau sedang tidak enak badan atau bagaimana?” Tanyamu ketika kau baru saja menyadari bahwa sedari tadi aku hanya diam.
“Tidak. Aku hanya tidak ingin membicarakan hal yang sedang tidak ingin kubicarakan” Jawabku.

Aku tidak berniat mengatakan bahwa ceritamu membosankan, aku hanya berharap bahwa kau paham dengan bahasa tubuhku yang tidak menunjukkan ketertarikan. Bah, fuck kode-kodean. Alis matamu kembali terangkat. Aku tersenyum lagi. Kau menatapku.

“Kenapa?” Tanyamu.
“Masa lupa?” Jawabku dengan senyum yang lebih lebar.

In Instant Coffee I trust


“Bagaimana pekerjaan barumu?” Tanyamu ketika kita tak punya lagi bahasan yang lebih menarik untuk dibicarakan.
“Baik-baik saja” Kataku tanpa niat menambah panjang obrolan yang tak kau sukai.
--------
Kau diam untuk beberapa saat.
--------
“Mau menceritakan?” Pertanyaanmu membuatku menoleh ke arahmu.
“Aku penasaran” Lanjutmu yang sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan yang terbentuk dari raut wajahku.
“Oke” Jawabku.
--------

Sudah lebih dari sebulan ini aku menjalani status baruku sebagai karyawati salah satu perusahaan yang mayoritas pekerjanya adalah laki-laki. Sebagai karyawan bagian IT Department, aku menghabiskan 40 jam waktuku seminggu untuk duduk menghadap beberapa baris kode program dalam komputer. Sudah lebih dari sebulan ini pula aku kecanduan kopi instan.
Sehari harus minum kopi. Baik pagi sebelum sarapan atau ketika sedang di kantor. Tanpa kopi ngantuknya luar biasa. Ga bisa fokus. Diajak ngomong juga ga nyambung. Padahal sebelumnya enggak. Eh sebelumnya iya sih, cuma biasanya ngoding tengah malam, sendirian, dikamar. Nah ini ngoding dari pagi sampe sore di dalam ruang kaca yang dikelilingi ruang produksi. Jadi muka-muka ngantuk nan desperate ini bakal keliahatan dari luar. Bukan apa-apa sih, cuma pernah suatu kali pas lagi ngantuk-ngantunya iseng ambil cermin dan bercermin. Yampon demi apa, aku jelek banget ternyata. Rambut acak-acakan, mata beler, baju ga rapi, bertopang dagu dan lagi liatin sosok di dalam cermin dengan tatapan keheranan.
“Ternyata aku jelek banget”.
Ya emang sih ngopi ga serta merta buat wajah jadi cantik, mau cantik mah harus operasi. Tapi kurasa lagi ga ngantuk itu lebih cantik daripada lagi ngantuk. Ah sudahlah. Apalah aku ini, seorang pecandu kopi instan yang berusaha rajin bekerja untuk mengejar harta demi tujuan : mempercantik diri. Yang tak kunjung berhasil. Hais sial.
Ini cerita gapenting amat sih.


--------
“Udah? ” tanyamu.
“Ho’o” Jawabku sedikit kesal.

Tidak Tahu


Kau tahu aku punya dua sisi kehidupan yang keduanya saling bertolak belakang. Aku juga tahu bahwa kau juga memilikinya. Meski belakangan kurasa sikap yang dulu kau sembunyikan itu terasa sangat kau tampakkan dengan sengaja. Kita sama-sama tahu bahwa kita memiliki keduanya. Tapi kita tidak saling tahu yang mana diri kita yang sebenarnya. 

Kita tidak pernah saling mencari. Kita juga tidak pernah saling bertanya kabar. Kita saling tidak peduli apa suasana hati dari masing-masing diri kita ketika salah satu dari kita hendak bercerita sesuatu. Hanya sesekali aku berterus terang sedang tidak ingin berbicara jika kau benar-benar terlihat menyebalkan tanpa pernah bertanya penyebabnya. 

Kau begitu cepat mengubah tema pembicaraan setiap kali kita terlibat dalam suatu obrolan yang kurasa penting. Meski kutahu kau tidak pernah menganggap sesuatunya penting. Sikap sinismu selalu keluar jika aku mulai menceritakan sesuatu dengan sangat antusias. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan setiap hal itu terjadi. 

Aku tidak pernah tertarik untuk tahu apapun tentang dirimu. Aku juga sama sekali tidak pernah tertarik untuk membawamu mengenal ‘duniaku’. Bertanya kabar adalah suatu hal yang sangat aku hindari. Aku tidak ingin membiarkan rasa ingin tahuku tentangmu memimpin naluriku untuk terlalu mengenalmu. Aku hanya bersiap untuk kembali ke masa-masa sebelum aku mengenalmu jika kelak kau menghilang dan pergi dariku. Biarlah kunikmati saat-saat seperti ini, karena kau begitu menarik setiap harinya ketika aku tidak terlalu mengenalmu.

"How nice that we don’t understand each other"

Teruntuk : RN


Tempat fana, 20 September 2016


Hai.

Untuk pertama kalinya aku memberanikan diri menulis surat untukmu. Maaf jika surat ini sudah basi dan terlambat karena kau pasti sudah tidak minat dengan hal remeh temeh seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan surat ini padamu. Tapi biarlah kutulis surat ini disini sembari aku meyakini bahwa kau saat ini tengah duduk lesehan bersebelahan dengan stop kontak sambil memangku laptop hitammu yang jadul. Kuyakin pula di sana tersedia fasilitas WiFi. Aku tidak tahu bagaimana cara memberikan link tulisan ini padamu, tapi kuharap kau menemukannya sendiri dan bersedia membacanya disana. Sekali lagi maaf jika mengganggu waktumu.

Bagaimana kabarmu? Aneh ya, tiba-tiba aku menanyakan kabar. Kau boleh tidak menjawabnya tentu saja. Perlu kau ketahui, aku memang mengubah sikapku padamu sejak kau pergi. Jangan marah ya. Bukan, bukan maksud iba. Hanya aku menemukan pandangan lain untukmu yang sialnya baru saja kuketahui sejak kau pergi.

Kuberitahu, kemarin aku memimpikanmu. Dalam mimpiku kau datang dengan jaket hitam polos yang sedikit membuatmu terlihat lebih berisi. Sambil menggendong tas ranselmu yang juga hitam, kau berjalan mendekat ke arahku. Kau menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Kita saling diam dan menatap satu sama lain untuk waktu yang tidak sebentar. Selanjutnya kau pergi. Meninggalkan aku yang masih terus menatapmu. Menatap punggungmu yang menggendong tas ransel yang biasa kau pakai kuliah itu. Aku merasa ingin sekali memanggilmu agar kau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu. Hari ketika kau benar-benar pergi. Aku hanya menatap tubuhmu yang perlahan menghilang dari pandanganku. Kemudian aku terbangun. Untuk beberapa lama aku duduk di tengah tempat tidurku dan memikirkan mimpi yang baru saja kualami.

Entah kenapa, dari mimpi itu aku berpikir bahwa kau marah padaku karna dulu aku sempat begitu membencimu. Betulkah? Kau marah? Jika kau marah, aku justru bangga. Terus terang saja kupikir kau masih menjadi pria bodoh yang tidak tahu jika seseorang tengah menaruh benci padamu. Jangan jadi tambah marah ya, hehe.

Aku tidak tahu apa yang saat ini menjadi rutinitasmu di sana. Juga siapa-siapa saja yang berada di sekelilingmu. Atau siapa-siapa saja yang saat ini tengah membencimu. Mereka pasti menyesal seperti menyesalku saat ini.

Kalau memang kedatanganmu di mimpiku hari lalu adalah karna keinginanmu sendiri, kumohon datanglah lagi. Ceritakan padaku apa yang ada disana. Ceritakan padaku bagaimana dengan hari pertamamu di sana. Ceritakan terus apa yang terjadi setiap harinya disana setelah 3 bulan kepergianmu ini. Kukira kau sangat beruntung, kau pergi sepagi itu. Kau berani menghadapinya sendiri, setenang dan semanis itu. Kuharap teman-temanmu disana tahu bahwa kau orang baik. Jika ada sesuatu darimu yang menyebalkan, kuharap mereka tau jika kau hanya bodoh. Hanya karena kau banyak tidak tahu. Daaan, kuminta perbanyaklah bicaramu. Aku suka kau yang banyak bicara.

Rasanya aku sudah menuliskan semua yang ingin kuungkapkan padamu saat ini. Semoga kau mau menjumpaiku lagi dengan rambut yang lebih rapi. Asal kau tahu, kau sama sekali tidak cocok dengan model rambut seperti kemarin itu. Kau harus segera temukan tukang cukur disana dan mencukur rambutmu seperti ketika kau masih di sini. Mau ya?


Salam,
Yeni.

Wanita Adalah Ular Bagi Wanita Lainnya

Wanita menuntut wanita lainnya untuk berpenampilan dan berperilaku sesuai dengan standar yang dimilikinya. Wanita asshole yang memiliki gank beranggotakan sekumpulan asshole kerap kali membuat peraturan tata cara berpenampilan dan berperilaku sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat, mereka amini dan mereka pergunakan untuk menilai orang lain. Hukuman yang akan wanita dapatkan dari ketidaksesuaian sikap adalah gunjingan dan tatapan hostile. Wanita seperti ini, jika berada di luar gank nya sendirian dan bertemu wanita lain yang sendirian akan menghilangkan sungut iblisnya. Mereka menjadi bersikap manis, hangat nan bersahabat. Namun ketika dia sudah kembali ke kawanannya, taring dan sungut yang tak kasat mata itu tumbuh dan mulailah cercaan demi cercaan kepada wanita di luar kelompoknya terlontar berbusa-busa dari mulutnya. Untuk selanjutnya kusebut mereka wanita ular.

Ada tiga jenis wanita di luar kelompok yang akan menjadi perhatian si wanita ular :
1.       Wanita yang jauh lebih menarik dari si wanita ular.
Merupakan jenis wanita yang paling aman. Wanita ular sudah pasti merasa kalah telak. Untuk itu, kebencian yang semula akan tumbuh dari dalam si wanita ular akan berubah menjadi kekaguman. 
2.    Wanita yang sedikit lebih atau kurang menarik dari si wanita ular.
Merupakan jenis wanita yang paling dicari-cari oleh si wanita ular. Mereka akan menjadi bahan gunjingan bagi kelompok ular. Make-up terlalu tebal, rambut lebih berwarna, pakaian lebih terbuka disimpulkan perek. Kalau kebalikannya disimpulkan kampung. Mereka ini selalu cari bahan untuk bisa menjatuhkan wanita di luar kelompoknya. Mereka adalah tipe-tipe wanita yang tidak tahan jika tidak menjadi pusat.
3.    Wanita yang jauh lebih tidak menarik dari si wanita ular.
Neraka. Jika ada wanita yang berada di group ini dan tidak berkuping tebal sebaiknya mulai berbenah.

Sudah menjadi label di kalangan umum bahwasanya wanita itu tidak bisa ditebak, suka drama dan suka ngribetin hal nggak penting. Untuk itu, dear wanita-wanita korban kebengisan gank ular, satu kata yang harus dipegang untuk mereka : Cuekin. Life is too short to dealing with them. Hidup kita ga tergantung dari mereka, jatah oksigen kita juga ga nyempal dari mereka kok. Dan dear wanita-wanita ular, sifat nyebelin kalian itu dikurang-kurangin lah. Karena jadi seorang asshole itu nyebelin.


PS. Posisi menjadi wanita ular bergantung pada banyaknya anggota gank. Posisi menjadi wanita yang ditindas si wanita ular juga bergantung pada seberapa nggak punya temen kalian. Gosah protes, hidup emang ashole.

DOA

Pagi itu aku terbangun setelah vesica urinaria dalam tubuhku mendorongku untuk berkemih. Aku sempat menekan tombol power ponselku hanya sekedar untuk mengetahui angka digital yang tertera dalam layar ponselku saat itu.

03.13

Aku meneruskan langkah ke kamar mandi dan mengeluarkan air kencing yang sudah tidak tertahankan lagi. Usai mengguyur cairan sisa yang dieksresikan oleh ginjal dalam tubuhku, aku kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur. Sebelum sampai kamar tidurku, langkah kakiku terhenti sejenak. Kudengar ibuk tengah berdoa. Samar-samar aku mendengar beberapa doa yang tengah diucapkan ibuku. Deg! Jantungku berdegup kencang ketika kutahu dia tengah berdoa untukku. Berdiri terpaku untuk beberapa saat sebelum kemudian aku benar-benar kembali ke kamar tidurku. 

Tidak seperti rencana semula, aku gagal menjalankan rencana tidur lagi. Aku duduk di pinggir tempat tidur dan memikirkan apa yang baru saja kudengar. Doa ibuku.

Jujur saja, beberapa waktu belakangan ini aku memang tengah mempertanyakan esensi doa. Berdoa atau tidak, bukankah Tuhan sudah memiliki ketetapan ? Apakah mungkin ketetapan Tuhan akan berubah menjadi kedinamisan jika mendengar hambanya tengah berdoa ? Atau para pendoa menganggap Tuhan tidak tahu apa yang sedang dibutuhkan, hingga harus diberitahu dengan doa ? Bukankah Tuhan tahu apa yang kita inginkan, bahkan meski tidak terucap sekalipun. Atau doa sebagai pemenuh kewajiban, yang jika tidak dilakukan akan mengantarkan kita ke neraka ? Seorang teman pernah mengatakan kepadaku bahwa doa digunakan untuk menghilangkan sifat sombong dalam diri manusia, karena senantiasa mengingatkan manusia sebagai hamba Tuhan. Jawaban yang justru mempertegas bahwa doa memang tidak berpengaruh apapun pada ketetapan Tuhan. Tidak terjawab.

Hingga pagi ini, aku menemukan jawabannya. Doa adalah harapan. Aku merasakan harapan ibuku terbungkus dalam kata-kata doa yang tengah diucapkannya. Harapan yang aku belum dapat memenuhinya. Dan ibuk berharap melaui doa yang diucapkannya di waktu dini hari ini. Ada perasaan bersalah dan terbebani yang menggelayut dalam hatiku. Aku merasa seperti dituntut untuk dapat memenuhi harapan ibuk setelah mendengarnya langsung. Aku takut tidak bisa, dan aku justru tertekan oleh harapannya. 

Nakedly . .

Sebelumnya kujelaskan, aku bukan ibu peri baik hati yang sedang berusaha menyenangkan semua orang. Jika dapat melakukan, aku ingin menjadi seorang yang tidak peduli dari semua yang tidak kusukai. Aku ingin TERLIHAT tidak peduli dan benci dari dalam hingga luar, dari atas hingga bawah dan dari kanan hingga kiri!
Tapi aku tidak bisa. . .
Naluriku memaksaku untuk selalu berusaha melakukan kebaikan, menunjukkan keramahan dan membangun kesan-kesan positif lainnya. 
Sebut aku munafik. 
Ya aku munafik demi menyenangkan orang lain juga demi membangun citra yang baik untukku sendiri. 
Hingga saat ini, datang suatu hal yang membelokkan pandanganku ke arah yang lain. Kekecewaan. 
Aku kecewa bahwa aku bukan menolong orang yang sedang sangat membutuhkan bantuan, melainkan mereka yang ingin mendapatkan bantuan dengan cara yang mudah tanpa usaha. 
Aku kecewa bahwa ketika aku membutuhkan pertolongan, justru aku sedang dilupakan.
Aku bisa saja tidak terlalu membutuhkan pertolonganmu, tapi aku butuh disenangkan dengan kalian menunjukkan rasa peduli, rasa ingin menolong. Setidaknya berpura-puralah dan jangan biarkan aku tahu. 
Toh aku tidak lagi percaya adanya ketulusan kecuali dari ibuku.